jump to navigation

BELAJAR MANDIRI DENGAN PEMANFAATAN PROGRAM POWERPOINT DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 BENGKULU SELATAN 23 Juli 2009

Posted by irwansetiawan81 in Pembelajaran dan dunia pendidikan.
trackback

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.   ABSTRAK

            Irwan Setiawan S.Pd, guru mata pelajaran sejarah, Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Bengkulu Selatan. BELAJAR MANDIRI DENGAN PEMANFAATAN PROGRAM POWERPOINT DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 BENGKULU SELATAN”,

Berawal dari proses belajar mengajar sejarah yang penulis alami sendiri di sekolah, terlihat bahwa minat belajar siswa terhadap materi pelajaran sejarah sangat minim, ditambah lagi dengan kecilnya angka ketuntasan dalampenguasaan materi pelajaran. Hal ini memunculkan keinginan penulis untuk melakukan penelitian dengan melaksanakan sendiri beberapa perubahan dalam cara penyajian materi pelajaran, dengan harapan pertama yaitu adanya perubahan minat belajar mata pelajaran sejarah siswa ke arah yang lebih baik. Perubahan cara pembelajaran itu dilakukan dengan perbaikan pada penggunaan media pengajaran yang diubah kearah penggunaan media berbasis tekhnologi dan informasi yaitu dengan memanfaatkan program Microsoft office powerpoint.

Untuk pembuktian apakah minat belajar siswa mengalami peningkatan maka penulis melakukan wawancara dengan siswa. Sedangkan untuk melihat tingkat keberhasilan dan penguasaan materi pelajaran sejarah penulis juga malakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK),secara sederhana. Dan dalam hal ini dilakukan dalam 3 siklus. Hasil penelitian akan di bandingkan dari tiap siklusnya dengan indikator keberhasilan siswa yaitu dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

            Kesimpulan yang dapat diambil adalah, bahwa mata pelajaran sejarah bila dikemas dengan penggunaan media pengajaran yang menarik, dalam hal ini dengan penggunaan  media berbasis tekhnologi dan informasi yaitu dengan memanfaatkan program Microsoft office powerpoint ternyata dapat meningkatkan minat belajar dan penguasaan materi pelajaran siswa. Hal ini terbukti dari ketuntasan penguasaan materi pelajaran yang lebih baik.

 

 

 

  1. B.   PENDAHULUAN

            Pendidikan adalah hal penting dan paling mempengaruhi perkembangan, kemajuan setiap bangsa. Seluruh komponen dalam dunia pendidikan haruslah didukung dan digerakkan demi kemajuan tingkat intelektualitas, dan moral siswa. Setiap mata pelajaran yang diberikan harus mendukung dua hal tersebut, karena kemajuan intelektual dan kedewasaan moral lah yang akan mempengaruhi masa depan bangsa.

            Rumpun Ilmu sosial memberikan sebuah wawasan kemasyarakatan dan pemahaman tentang kehidupan bermasyarakat. Sebagai contoh ialah ilmu sosiologi yang diberikan pada siswa akan memberi gambaran baginya tentang kehidupannya di masyarakat, ilmu sejarah memberi cakrawala berfikir tentang kehidupan masa lalu yang mempengaruhi kehidupan sekarang dan memberi andil bagi kehidupan masa datang. Begitu juga dengan bidang ilmu-ilmu sosial lainnya. Walaupun demikian sejauh ini masyarakat masih menilai ilmu eksak lah yang mendapat penilaian lebih di banding ilmu sosial, meski sebenarnya dalam  prinsip ilmu pengetahuan bahwa semua ilmu itu sama.

Sejarah sebagai salah satu mata pelajaran rumpun ilmu sosial, dewasa ini mengalami berbagai masalah, teritama peneurunan minat siswa untuk mempelajarinya secara sungguh-sungguh dan maksimal. Penurunan minat siswa dalam belajar sejarah ini memang seyogyanya harus diteliti dahulu, tapi dari segi pantauan penulis di lapangan memang fenomena itu lah yang terjadi. Dari penelusuran yang penulis lakukan dapat dilihat pada Web Forum Upi, juga terlihat hal yang sama, yaitu “mata pelajaran sejarah bukan mata pelajaran yang disukai”, sehingga muncul berbagai pendapat tentang pelajaran ini diantaranya :

“Supaya pelajaran sejarah jadi nyenengin and diminati, jangan jadiin pelajaran sejarah cuman sebagai pelajaran mengingat tanggal peristiwa. Tapi siswa pun musti dilibatin secara emosi.
Kalo bisa, pelajaran sejarah  di sampein secara visual. Sesekali lewat permainan drama, nonton film or ngedatangin pelaku sejarah di kelas buat bercerita, kayaknya ini lebih menarik.
Sajian buku pelajarannya jangan kayak buku biasa, tapi di bikin kaya buku cerita.
Dan sejak awal, kasih tau ke siswa tentang manfaat and asyiknya belajar sejarah.
Asyik juga kalo guru sejarahnya itu tau sampai hal yang kecil-kecil. Misalnya, apa makanan kesukaan Hitler? Gimana cara Hitler “nembak” Eva B? hal-hal yang lebih personal lah, supaya mereka tertarik aja. Tapi jangan sampe ngegosipin Hitler, kasian[1].

            Kurangnya jam mata pelajaran sejarah di sekolah, juga terungkap dalam diskusi Forum Komunikasi Guru Sejarah (FKGS) Sumatera Barat. Generasi muda yang kurang paham sejarah tidak kenal lagi dengan kiprah perjuangan Bung Hatta, Haji Agusalim, Syahrir, Yamin, Tan Malaka, dan lain-lain[2].

            Sebagai salah satu jalan untuk meningkatkan semangat belajar dan ketertarikan siswa maka perlulah dilakukan perbaikan cara pengajaran dengan memanfaatkan sarana multimedia, komputer, dan berbagai sarana tekhnologi informasi modern, yang telah memberi berbagai kemudahan dalam proses pembelajaran, serta menjadikan mata pelajaran ini lebih real / nyata, berwarna, dan menarik.

Untuk mendapatkan fokus dan tujuan utama tulisan dan penelitian sederhana ini maka di ditetapkanlah judul penelitian ini “BELAJAR MANDIRI DENGAN PEMANFAATAN PROGRAM POWERPOINT DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 BENGKULU SELATAN” dengan beberapa pertanyaan penelitian yang ingin di jawab yaitu:

  1. Apa penyebab kurangnya minat siswa dalam mempelajari mata pelajaran sejarah?.
  2. Apakah penggunaan media belajar berbasis tekhnologi informasi dan komunikasi khususnya penggunaan Microsoft office powerpoint dapat membantu meningkatkan minat siswa dalam belajar mata pelajaran sejarah?.
  3. Apakah pemanfaatan media belajar dengan powerpoint dapat meningkatkan hasil belajar siswa?.

Dari jawaban-jawaban penelitian ini diharapkan mampu memberikan peluang penyelesaian masalah pada kurangnya ketertarikan siswa dalam mempelajari mata pelajaran sejarah, serta melihat apakah dengan penggunaan media pembelajaran dengan powerpoint dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Pada prinsipnya dalam tulisan ini terdapat dua penelitian yang ingin di sajikan yaitu bagaimana memperkenalkan dan memaksimalkan media pembelajaran berbasis tekhnologi dan informasi yang diterapkan dalam penyajian mata pelajaran sejarah sehingga ketertarikan siswa dalam mempelajari mata pelajaran sejarah makin meningkat dan berusaha melihat hasil dari penerapan itu dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas secara sederhana.

Dalam penelitian ini terdapat usaha untuk mendeskripsikan prestasi belajar siswa pada pembelajaran sejarah yang diajar dengan menggunakan media powerpoint. Penelitian melibatkan 39 orang siswa SMA 1 Bengkulu Selatan Kelas X C pada semester 2 tahun pelajaran 2008/2009. Pemilihan kelas XC sebagai sampel penelitian dikarenakan adanya penilaian guru-guru mata pelajaran lain bahwa kelas ini memiliki berbagai masalah, seperti dikelas ini adanya siswa yang pemalas, masalah perkelahian siswa, sehingga siswa kelas ini sering masuk ruang bimbingan konseling untuk mendapat pengarahan. Pengumpulan data untuk melihat ketertarikan siswa terhadap mata pelajaran sejarah yang penulis lakukan adalah dengan tekhnik observasi yaitu pengumpulan data dengan pengamatan, wawancara, dokumentasi. Selanjutnya dilakukan tes essay untuk mengetahui hasil belajar siswa. Dan dilanjutkan dengan pengolahan data, agar bisa didapatkan kesimpulan-kesimpulan yang diharapkan mampu menjawab keingintahuan penulis terhadap permasalahan ini.

Tulisan dan penelitian sederhana ini diharapkan dapat pula membuka cakrawala berfikir guru-guru sejarah dalam usaha meningkatkan kemampuan anak didik dalam penguasaan materi pelajaran dengan menggunakan media berbasis tekhnologi informasi dan komunikasi sehingga penilaian mata pelajaran sejarah ketinggalan zaman, penilaian mata pelajaran sejarah jauh dari tekhnologi dan tidak menarik dapat di hilangkan.

  1. C.   METODOLOGI

Untuk pengkajian pembelajaran sejarah agar lebih dipahami maka kita perlu melihat beberapa teori dan konsep diantaranya: konsep belajar, media pembelajaran, hasil pembelajaran, dan minat

Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku atau kecakapan manusia berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu beriteraksi dengan lingkungannya[3].

Dari pengertian tersebut ada kata “change” maksudnya bahwa seseorang yang telah mengalami proses belajar akan memahalami perubahan tingkah laku baik dalam kebiasaan (habit), kecakapan-kecakapan (skills) atau dalam tiga aspek yaitu pengetahuan (kognitif), sikap (affektif), dan keterampilan (psikomotor).

Dalam membantu memperlancar serta mempermudah terciptanya proses belajar mengajar yang optimal maka diperlukanlah media yang menarik. Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual. Namun hal itu mulai mengalami perubahan dan perkembangan, Sekitar pertengahan abad ke XX usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio, sehingga lahirlah alat bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, seperti adanya komputer dan internet.

Media memiliki beberapa fungsi, diantaranya :

  1. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar – gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.
  2. Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, yang disebabkan, karena : (a) obyek terlalu besar; (b) obyek terlalu kecil; (c) obyek yang bergerak terlalu lambat; (d) obyek yang bergerak terlalu cepat; (e) obyek yang terlalu kompleks; (f) obyek yang bunyinya terlalu halus; (f) obyek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
  3. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
  4. Media menghasilkan keseragaman pengamatan
  5. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.
  6. Media membangkitkan keinginan dan minat baru.
  7. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.
  8. Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak

Terdapat berbagai jenis media belajar, diantaranya:

  1. Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik
  2. Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya
  3. Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya
  4. Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya[4].

            Kehadiran media elektronik seperti komputer dengan fasilitas internet, ditambah LCD untuk penayangannya, sebagai media belajar merangsang guru untuk lebih bisa memanfaatkanya sebagai sarana penunjang yang menarik. Multimedia sebagai alternatif pembelajaran dinilai akan mempengaruhi seluruh komponen pendidikan untuk lebih bijak, lebih maju dan lebih baik. Yang jelas kehadiran sarana multimedia cukup memberi warna pada proses pendidikan di kelas. Apalagi melihat bagaimana biasanya pandangan siswa terhadap mata pelajaran sejarah yang biasanya dinilai kuno, ketinggalan zaman, kurang menarik. Guru hendaknya berpandangan, multimedia sebagai alternative untk menanggulangi masalah tersebut bahkan menjadikannya sebagai sarana pokok dalam pembelajaran, eksistensi dan kehadirannya sangat diperlukan. Meski demikian siswa sangat memerlukan arahan dan bimbingan guru. Sehebat apapun alat peraga yang paling canggih, peran guru tetap yang akan menentukan[5].           

            Pada bagian awal, yang ingin dilihat adalah bagaimana dengan perubahan minat belajar siswa untuk mata pelajaran sejarah, yang sebelumnya masih dinilai kurang, kita harapkan dapat meningkat. Minat ialah suatu pemusatan perhatian yang tidak disengaja yang terlahir dengan penuh kemauannya dan yang tergantung dari bakat dan lingkungan (Sujanto Agus : 1981). Dalam belajar diperlukan suatu pemusatan perhatian agar apa yang dipelajari dapat dipahami; Sehingga siswa dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan. Terjadilah suatu perubahan kelakuan[6].

            Untuk melihat hasil yang dicapai dari penggunaan media berbasis multi media dalam pembelajaran sejarah, maka peneliti juga malakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom action research (CAR), walaupun dengan tahapan dan pelaksanaan yang sederhana, sihingga terlihat apakah dengan pemanfaatan program powerpoint dalam pembelajaran sejarah di sekolah menengah atas dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Penelitian tindakan kelas adalah action research yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Penelitian Tindakan pada hakikatnya merupakan rangkaian “riset-tindakan-riset-tindakan-riset-tindakan…”, yang dilakukan secara siklus, dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Ada beberapa jenis Penelitian Tindakan, dua di antaranya adalah individual action research dan collaborative action research (CAR)[7].

            Adapun siklus PTK sederhana yang dilakukan dalam penelitian ini dilakuakan dalam dua siklus dengan  beberapa langkah sebagai berikut: perencanaan, penerapan, observasi dan evaluasi, serta refleksi yang diterapkan di kedua siklus penelitian.

 

 

BAB II

MENGKAJI EKSISTENSI MATA PELAJARAN SEJARAH

 

A. MELIHAT MINAT BELAJAR SISWA DALAM MEMPELAJARI MATA PELAJARAN SEJARAH

 

Mata pelajaran sejarah adalah satu mata pelajaran rumpun ilmu sosial yang makin tersisihkan, apalagi dengan keluarnya Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan (KTSP). Dalam aturan yang dijelaskan Departemen Pendidikan Nasional yaitu Permendiknas nomor 22 tahun 2006, mata pelajaran sejarah di sekolah menengah atas mengalami penyusutan jam pelajaran yang dikurangi menjadi 1 jam pelajaran pada kelas I (kelas X) dan II (kelas XI) . Di perparah lagi kelas di III (XII) hanya program ilmu sosial yang belajar sejarah dengan waktu 3 jam pelajaran sedangkan program ilmu alam tidak belajar sama sekali, pada hal siswa yang program ilmu pengetahuan alam banyak juga yang memilih program ilmu sosial pada saat mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Bahkan kuliah di jurusan-jurusan rumpun ilmu sosial.

Bukan hanya itu saja, selain makin berkurangnya jam mata pelajaran sejarah di sekolah, mata pelajaran ini pun tidak diikutkan pada mata pelajaran yang masuk dalam Ujian Nasional (UN). Sehingga makin mempengaruhi minat siswa untuk mempelajari mata pelajaran secara maksimal. Sedangkan dari segi urgensinya mata pelajaran sejarah memiliki misi penting untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang kehidupan masa lalu bangsanya, seperti ungkapan “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”, apabila para siswa tidak mendapatkan ilmu sejarah, bagaimana mereka tahu akan pahlawannya, bagaimana ia tahu akan masa lalu bangsanya.

Penggunaan media pembelajaran merupakan salah satu hal yang akan mendukung keberhasilan siswa dalam menguasai materi pelajaran. Sejauh ini masih banyak guru yang mengandalkan media-media pembelajaran yang sederhana, walau sebenarnya dunia pendidikan telah mengalami berbagai kemajuan dan perkembangan yang diperuntukkan bagi kemajuan pendidikan itu sendiri. Berbagai jenis media pembelajaran berbasis tekhnologi informasi dan komunikasi makin berkembang, mulai dari penggunaan komputer, pemanfaatan jaringan internet, pemutaran film untuk beberapa materi pelajaran, dan salah satunya adalah dengan pemamfaatan program Microsoft office powerpoint dalam penyajian materi pelajaran

Dari penjelasan diatas, jelaslah bahwa mata pelajaran sejarah perlu mendapat sentuhan, dunia teknologi inforamasi dan komunikasi sehingga mata pelajaran ini menjadi menarik untuk di pelajari dan lebih mudah dipahami. Demi pencapaian hal yang semacam itu maka memang sangat diperlukan semangat dan keinginan guru untuk mau mencari, mamanfaatkan media internet, komputer, sebagai sumber ilmu dengan penggunaan Microsoft office powerpoint untuk menyajikan materi pelajaran sejarah.

 Khusus untuk mata pelajaran sejarah penggunakan program Microsoft office powerpoint dalam pembelajaran diharapkan akan membantu tercapainya tujuan pembelajaran, yaitu meningkatnya pemahaman siswa tentang materi pelajaran yang dibuktikan dengan baiknya nilai yang diperoleh, dengan minimal penguasaan sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Namun ada sedikit kendala yaitu masih adanya guru-guru yang belum terbiasa menggunakan komputer sebagai alat bantu pembelajaran. Padahal idealnya untuk menarik perhatian dan minat peserta didik terhadap pembelajaran sejarah harus dibuat tampilan media pembelajaran yang unik, menarik, baik warna, teks, bentuk dan ilustrasinya.

Temuan penelitian sederhana yang penulis dapatkan adalah dengan penggunaan sarana tekhnologi informasi dan komunikasi dalam menyampaikan materi pembelajaran, tampak perubahan minat dan semangat siswa. Sebagai contoh: saat mereka di persilahkan masuk ruang komputer atau ruang multimedia, semua bergegas untuk mencari kursi dibagian depan dengan komputer yang mereka nilai paling baik. Saat ditanyakan pada salah seorang siswa Arif Delfiawan tentang minat dan ketertarikan mereka belajar sejarah diruang multimedia, ia menjelaskan “saat disuruh masuk keruang multimedia kami mulai bertanya-tanya materi apa yang akan disajikan dan bagaimana tampilan pembelajaran sejarah kali ini, seperti minggu lalu saat belajar sejarah di ruang ini, materinya disajikan dengan penayangan gambar dan pejelasan dengan powerpoint. Terlihat disana adanya penayangkan gambar-gambar, temuan-temuan manusia purba di Indonesia[8]”.

Adalagi siswa yang menyampaikan bahwa dengan penggunaan powerpoint, belajar sejarah jadi lebih asyik, karena kami bisa memahami materi tanpa harus membaca buku berulang kali[9]. Perubahan minat dan ketertarikan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa kebiasaan dan hal yang umum dilakukan guru mata pelajaran sejarah yaitu : materi pelajaran sejarah biasanya hanya mengandalkan buku panduan atau buku pokok, catatan harian siswa, bahan tertulis dari guru. Dengan materi yang kaku dan tidak interaktif itu pada dasarnya dapat menyebabkan kejenuhan siswa dalam usahanya mempelajari materi pelajaran sejarah. Namun dengan penggunaan komputer, terutama powerpoint terhadap pembelajaran sejarah pastinya akan membuat tampilan media pembelajaran yang unik, menarik, baik warna, teks, gambar, foto, bentuk dan ilustrasi, menyebabkan masalah ketertarikan terhadap tampilan pembelajaran dapat di atasi.

Media powerpoint yang penulis gunakan juga menggunakan penunjang lain, yaitu internet. Di berbagai situs dapat di akses foto-foto, gambar-gambar tentang materi pelajaran sejarah sehingga bisa di masukkan kedalam tampilan media powerpoint. Media yang dibuat dengan program microsof powerpoint, diolah lagi menjadi lebih interaktif dengan menggunakan beberapa hyperlink, pada bagian materi mana yang ingin diperdalam, maka siswa dapat meng”klik” atau memilih pada tampilan monitor komputer. Interaksi antara siswa dengan media digunakan untuk memacu keingin tahuan siswa dalam melihat, memahami dan materi yang disajikan secara utuh.

 

B. PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH DENGAN POWERPOINT DAN HASIL BELAJAR SISWA

 

Untuk melihat apakah memang penggunaan media berbasis tekhnologi informasi dan komunikasi yang menggunakan program Microsoft powerpoint ikut mempengaruhi tingkat pemahaman dan penguasaan materi pelajaran sejarah yang dikuasai siswa maka di mulailah melakukan langkah-langkah penelitian tindakan kelas sederhana :

  1. Siklus Pertama ( siklus 1).

1)    Perencana :

  1. Menyusun, mempersiapakan penyajian materi dengan metode ceramah.
  2. Menyusun RPP dan satuan pelajaran.
  3. Menyiapkan bahan, alat dan media pembelajaran, dalam hal ini penulis menggunakan media chart dari kertas Koran, yang berisi penjelasan tentang materi pelajaran.
  4. Menyiapkan lembar observasi dan alat evaluasi.

2)    Tindakan :

  1. Melaksanakan metode ceramah dalam penyajian materi pelajaran.
  2. Penekanan pada kegiatan awal, inti dan akhir.

3)    Observasi dan evaluasi :

  1. Selama guru mengajar dilakukan observasi untuk melihat keaktifan siswa oleh teman sejawat.
  2. Dialakukan evaluasi hasil belajar sejarah dengan pemberian tes essay kepada siswa.

4)    Refleksi:

  1. Hasil obserfasi dan evaluasi di analisis untuk meliht kekurngan dan kelemahannya.
  2. Mencari modifikasi baru bagi perbaikan metode yang digunakan dalam penyajian materi pelajaran sejarah yang akan dilakukan pada siklus II (namun dalam hal ini penulis telah mempersiapakan materi pembelajaran dengan penggunaan media powerpoint.)
  3. Siklus Kedua ( ke-2)

1)    Perencana :

  1. Menyusun, mempersiapakan penyajian materi dengan metode ceramah dengan menggunakan media pembelajaran powerpoint.
  2. Menyusun RPP dan satuan pelajaran.
  3. Menyiapkan bahan, alat dan media pembelajaran, dalam hal ini penulis menggunakan media chart dari kertas Koran, yang berisi penjelasan tentang materi pelajaran.
  4. Menyiapkan lembar observasi dan alat evaluasi.

2)    Tindakan :

  1. Melaksanakan metode ceramah dalam menyampaikan materi pelajaran yang tersaji dengan media power point.
  2. Penekanan pada kegiatan awal, inti dan akhir.

3)    Observasi dan evaluasi :

  1. Selama guru mengajar dilakukan observasi untuk melihat keaktifan siswa, yang dilakukan oleh teman sejawat.
  2. Dilakukan evaluasi hasil belajar sejarah dengan pemberian tes essay kepada siswa.

4)    Refleksi:

  1. Hasil obserfasi dan evaluasi di analisis untuk meliht kekurngan dan kelemahannya.
  2. Mencari modifikasi baru bagi perbaikan metode yang digunakan dalam penyajian materi pelajaran sejarah yang akan dilakukan pada siklus II (namun dalam hal ini penulis telah mempersiapakan materi pembelajaran dengan penggunaan media powerpoint.)
Ket: n    : Jumlah nilai kelas        N     : Jumlah siswa 
= n/N x 100%

Dari pelaksanaan dua siklus pembelajaran sejarah yang dilakukan maka dilanjutkan pada pengolahan data dengan mencari rata-rata nilai yang diperoleh siswa kelas X C. Rumus sederhana yang digunakan untuk melihat nilai rata-rata siswa dalah :

 

 

Indikator keberhasilan yang penulis tetapkan adalah keberhasilan pencapaian kelas pada nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah disepakati yaitu penguasaan meinimal mencakup 65% materi pelajaran.

Setelah dilakukan dua siklus untuk melihat hasil dari proses pembelajaran ternyata peningkatan rata-rata nilai hasil belajar disara masih belum mencukupi atau mencapai target KKM, maka diputuskan melanjutkan dengan siklus 3.

Siklus tiga secara umum pelaksanaan tahapan-tahapan yang dilakukan sama dengan siklus satu dan dua, tapi dalam tahap tindakan terdapat perubahan yang paling menonjol yaitu materi pelajaran langsung di masukkan ke komputer masing-masing siswa, mereka dapat membuka dan mengulang lagi materi yang ingin mereka perdalam.

Hasil, evaluasi dari pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam tiga siklus itu adalah:

Hasil dari siklus satu yaitu:

Rata-rata pencapaian nilai siswa setelah diberikan materi pembelajaran sejarah dengan metode ceramah, masih jauh dari KKM yang diharapkan. Pencapaian nilai rata-rata siswa baru 51,05 sedangkan KKM yang diharapkan adalah 65. Jadi masih perlu banyak perbaikan dan perubahan demi penigkatan hasil balajar siswa.

Jika kita menghiting dari jumlah siswa yang telah mencapai ketuntasan maka pada siklus satu ini penulis melihat secara objektif bahwa nilai siswa yang diharapkan mencapai ketuntasan masih sangat jauh dari yang diharapkan. Baru 6 orang yang memperoleh nilai lebih atau sama dengan KKM. Atau kalau dihitung dari persentasenya baru 15,3% yang mencapai ketuntasan.

Hasil Dari Siklus Dua yaitu:

Setelah dilakukan siklus ke dua terdapat peningkatan rata-rata hasil belajar siswa dari siklus pertama. Rata-rata nilai siswa yang pada siklus pertama 51,05 menjadi 59,97. Jadi terjadi peningkatan hasil belajar siswa sebesar 1,17%.

Sedangkan untuk jumlah siswa yang mencapai ketuntasan makin meningkat, dari siklus pertama yang baru 6 orang, pada siklus ke dua ini menjadi 14 orang, yaitu 35,9% dari jumlah siswa kelas XC.

Walaupun terdapat peningkatan, hasil ini belumlah dinilai maksimal, sehingga dilakukan lah teknik pembelajaran sesuai dengan siklus ke tiga.

Hasil Dari Siklus Tiga yaitu:

Pada siklus ini terdapat perubahan yang cukup penting yaitu, dimasukkannya materi pelajaran ke dalam komputer siswa di ruang multi media, mereka bisa melihat materi lagi, mengulang secara madiri. Materi mana yang dirasa kurang paham mereka bias melihat lagi materinya selain dapat juga menanyakan kepada guru mata pelajaran.

Pada siklus ketiga ini perubahan yang terjadi cukup besar dimana pencapaian penguasaan siswa telah mencapai KKM yang diharapkan, malahan dapat sedikit melebihi KKM. Rata-rata nilai siswa 69.94, yang artinya mengalami peningkatan lagi dari siklus ke dua sebanyak 1,17%. Dari hasil siklus ketiga ini baru lah terlihat bahwa rata-rata nilai siswa telah sesuai dengan yang diharapkan yaitu mencapai KKM yang telah ditetapkan, bahkan dapat melebihi.

Pada siklus ke tiga ini jumlah siswa yang telah mencapai ketuntasan meningkat lagi dari siklus ke II menjadi 35 orang yaitu 89,7% dari jumlah siswa. Walaupun tak dapat dipungkiri masih ada beberapa siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan yang dalam hal ini di kelas XC sebagai kelas penelitian masih terdapat 4 orang atau 10,2% yang belum mencapai KKM.

Peningkatan pencapaian nilai siswa dari siklus pertama sampai ke siklus ke tiga adalah : 18,89 %. Dari hasil ini lah penulis melihat bahwa dengan penggunaan media belajar powerpoint telah membantu siswa dalam pencapaian penguasaan materi pelajaran mereka. Sehingga dalam hal ini penulis menilai bahwa penggunaan media pembalajaran dengan format powerpoint ini dapat terus dilaksanakan dan di kembangkan, demi peningkatan kemepuan siswa dalam menguasai materi pelajaran.

Untuk lebih mudahnya melihat perubahan dan kejuan dari pelaksanaan tiga siklus penelitian tindakan kelas yang dilakukan, kita dapat melihatnya dari tabel berikut.

Analisis Perbandingan Siklus PTK

No Keterangan Siklus I Siklus II Siklus III
1 Nilai rata-rata siswa kelas XC 51,05 59,97. 69.94
2 Nilai yang telah mencapai ketuntasan minimal (KKM)/ orang 6 orang 14 orang 35 orang
3 Nilai yang belum mencapai ketuntasan minimal (KKM)/orang 33 orang 25 orang 4 orang

            Jika kita lihat dari jumlah siswa yang telah mencapai ketuntasan maka dapat dilihat bahwa dari proses pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan media powerpoint dibanding dengan cara penyajian materi ceramah dan media yang sederhana, terlihatlah jelas bahwa media powerpoint dapat membantu peningkatan hasil belajar dan ketuntasan siswa dalam pencapaiandalam pencapaian penguasaan materi pelajaran sejarah.

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

            Dari penelitian sederhana ini penulis dapat menariK beberapa kesimpulan, diantaranya :

a. Mata pelajaran sejarah makin tersisihkan dalam rumpun ilmu pengetahuan di dunia pendidikan Indonesia, sehingga ikut mempengaruhi minat siswa untuk mempelajarinya secara optimal.

b. Penggunaan media pengajaran berbasis tekhnologi komunikasi dan informasi pada pelajaran sejarah dapat meningkatkan minat dan ketertarikan siswa untuk mempelajari materi pelajaran. Hal ini terbukti dari antusias siswa dalam proses pembelajaran.

c. Media pembelajaran dengan powerpoint dalam mata pelajaran sejarah dapat mengurangi penilaian kuno dan ketinggalan zaman terhadap mata pelajaran ini.

d. Media pengajaran berbasis tekhnologi komunikasi dan informasi, yang dalam hal ini memanfaatkan program Microsoft office powerpoint, telah membantu peningkatan penguasaan materi pelajaran sejarah. Terbukti dengan meningkatnya persentase ketuntasan siswa dalam materi pelajaran ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Akhmad Sudrajat, “Media Pembelajaran”, http://akhmadsudrajat.wordpress.com

BURHANUDDIN ,SOEJOTO, “ Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Upaya Meningkatkan Minat Belajar Geografi Melalui Model  Pembelajaran “GROUP INVESTIGATION Kelas XI IPS SMA Muhammadiyah II Mojosari – Mojokerto” http://ptkguru.wordpress.com/

Santoso, 2009. “Konsep dasar Penelitin Tindakan Kelas”, Bengkulu: FKIP UNIB.

Forum Diskusi UPI , http://forum.upi.edu/

“Jam Mata Pelajaran Perlu Ditambah”, http://www.antara-sumbar.com

“Mengupas Tuntas Penelitian Tindakan Kelas “‘http://labschool-unj.sch.id/”

“Penelitian Tindakan Kelas yang Efektif”, http://www.radarsemarang.com/

Rambat Sasongko, 2009. “Aplikasi Penelitian Tindakan Kelas”, Bengkulu: Pascasarjana Manajemen Pendidikan.

“Teori Pembelajaran”, http://www.lingkaranilmu.co.cc

Wawancara dengan Arief Delfiawan, Senin 18 Mei 2009.

Wawancara dengan Juni Kurnia N, Senin 18 Mei 2009.

Zakaria, 2009. “Penyusunan Artikel Ilmiah”, Bengkulu: FKIP UNIB.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERSYARATAN

  1. Sistematika : Abstrak, Pendahuluan, Metodologi, Isi/Pembahasan, Kesimpulan dan Daftar Pusaka.
  2. Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, diketik HVS A4, berjarak 1 ½ spasi dengan jenis huruf Arial ukuran 11.
  3. Karya ilmiah harus asli (bukan jiplakan/plagiat) dan belum/sedang diikutsertakan dalam lomba sejenis tingkat nasional.
  4. Karya ilmiah paling banyak 25 halaman (termasuk sketsa/gambar/foto).
  5. Melampirkan rekomendasi Kepala Sekolah dan Riwayat Hidup serta mencantumkan alamat dan nomor telepon/faks kantor/rumah/HP yang mudah dihubungi.
  6. Karya ilmiah sebanyak 4 eksemplar (1 asli, 3 fotocopy) diterima panitia paling lambat tanggal 19 Juni 2009.
  7. Pada pojok kiri atas sampul ditulis tingkat dan bidang lomba yang diikuti.
  8. Karya ilmiah dan alat peraga yang diperlombakan menjadi milik panitia.
  9. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.

Panitia LKIG Ke-17 Tahun 2009
Biro Kerjasama dan Pemasyarakatan IPTEK LIPI
Sasana Widya Sarwono Lt.V
Jl. Jend. Gatot Subroto 10
Jakarta Selatan 12710
Telepon 021-52920839/021-5225711 Psw. 273, 274, dan 276
Faks. 021-52920839/021-5251834
www.lipi.go.id (Pengumuman)

Sumber
http://www.lipi.go.id

 

 

 


[1]  http://forum.upi.edu/

[2]  “Jam Mata Pelajaran Perlu Ditambah”, http://www.antara-sumbar.com

[3]  “Teori Pembelajaran”, http://www.lingkaranilmu.co.cc

[4]  “Media Pembelajaran”, http://akhmadsudrajat.wordpress.com

[5]  “Penelitian Tindakan Kelas yang Efektif”, http://www.radarsemarang.com/

[6]  BURHANUDDIN ,SOEJOTO, “ Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Upaya Meningkatkan Minat Belajar Geografi Melalui Model  Pembelajaran “GROUP INVESTIGATION Kelas XI IPS SMA Muhammadiyah II Mojosari – Mojokerto” http://ptkguru.wordpress.com/

 

[7]  “Mengupas Tuntas Penelitian Tindakan Kelas “‘http://labschool-unj.sch.id/”

[8]  Wawancara dengan Arif Delfiawan, senin18 Mei 2009.

[9]  Wawancara dengan Juni Kurnia N, Senin 18 Mei 2009.

silahkan download disini

Iklan

Komentar»

1. irwansetiawan81 - 7 Desember 2009

ditunggu balasannya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: